Pg Soft Mengembangkan Standar Desain

Merek: ALEXISGG
Rp. 10.000
Rp. 100.000 -99%
Kuantitas

Ketika sebuah produk digital ingin bertahan lama, ia butuh lebih dari sekadar tampilan yang “bagus”. Di sinilah Pg Soft mengembangkan standar desain sebagai fondasi kerja: seperangkat aturan visual, pola interaksi, dan pedoman pengalaman pengguna yang membuat setiap elemen terasa konsisten. Standar desain yang matang membantu tim bergerak cepat tanpa kehilangan identitas, sekaligus menjaga kualitas saat produk berkembang ke banyak fitur, perangkat, dan kebutuhan pengguna yang beragam.

Peta Bukan Lukisan: Cara Pg Soft Memulai Standar Desain

Alih-alih memulai dari kumpulan komponen yang langsung dipoles, Pg Soft biasanya mengawali proses dengan “peta keputusan”. Peta ini berisi daftar masalah nyata: ketidakseragaman tombol, jarak antar elemen yang berubah-ubah, gaya ikon yang saling bertabrakan, sampai istilah UI yang tidak konsisten. Dari sana, tim merumuskan prinsip inti, misalnya keterbacaan di layar kecil, prioritas pada aksesibilitas, dan alur interaksi yang ringkas. Pendekatan seperti ini membuat standar desain menjadi alat kerja, bukan dekorasi.

Token Desain: Bahasa Kecil yang Menyatukan Banyak Layar

Pg Soft menekankan token desain sebagai unit paling dasar: warna, tipografi, radius sudut, bayangan, dan spasi diberi nama serta aturan penggunaannya. Token membantu menghindari keputusan berulang di level mikro, sehingga tim fokus pada masalah yang lebih penting. Misalnya, “Primary-600” bukan sekadar kode warna, melainkan janji konsistensi: kontrasnya aman, cocok untuk tombol utama, dan tetap terbaca pada mode gelap. Dengan token, pergantian tema atau penyesuaian brand menjadi lebih cepat karena perubahan cukup dilakukan pada sumbernya.

Kisi-kisi yang Tidak Biasa: Grid yang Mengutamakan Ritme, Bukan Angka

Skema yang dipakai Pg Soft sering tidak mengikuti pola “8pt grid” secara kaku. Mereka memakai kisi-kisi ritmis: spasi ditentukan oleh ritme konten (judul, isi, tindakan) agar mata pengguna mengalir natural. Pada halaman padat informasi, jarak antar blok disusun seperti “ketukan” musik—rapat saat pengguna perlu memindai, longgar saat pengguna perlu berhenti dan memutuskan. Hasilnya, tampilan terasa teratur tanpa terlihat seperti template generik.

Komponen sebagai Skenario: Setiap Elemen Punya Peran

Dalam standar desain Pg Soft, komponen tidak hanya dicatat sebagai bentuk, melainkan sebagai skenario penggunaan. Tombol misalnya, dijelaskan kapan ia menjadi “primer”, kapan cukup “sekunder”, dan kapan sebaiknya diganti menjadi tautan biasa. Setiap komponen memiliki state yang lengkap: default, hover, aktif, fokus, dinonaktifkan, hingga kondisi error. Detail kecil seperti indikator fokus keyboard ikut ditetapkan agar pengalaman aksesibilitas tidak menjadi tambahan belakangan.

Tipografi dan Mikrocopy: Nada Bicara yang Terukur

Pg Soft mengatur tipografi bukan hanya ukuran huruf, tetapi juga hierarki dan panjang baris ideal. Mereka menulis aturan mikrocopy: pesan error yang tidak menyalahkan pengguna, instruksi yang singkat, serta label yang tidak ambigu. Alih-alih “Gagal”, sistem diarahkan menulis “Tidak bisa memuat data. Coba periksa koneksi lalu muat ulang.” Standar ini membuat antarmuka terasa manusiawi, sekaligus mengurangi beban tim dukungan karena pengguna lebih paham apa yang terjadi.

Warna yang Bertanggung Jawab: Kontras, Mode Gelap, dan Kejelasan Status

Palet warna ditentukan dengan pengujian kontras yang konsisten. Pg Soft membedakan warna untuk fungsi, bukan sekadar estetika: warna sukses, peringatan, dan bahaya memiliki intensitas yang berbeda agar status cepat terbaca. Mode gelap tidak sekadar membalik warna, melainkan menata ulang elevasi dan bayangan agar kedalaman tetap terasa. Dengan begitu, tombol utama tetap menonjol tanpa menyilaukan, dan teks sekunder tidak tenggelam.

Ritual Audit: Mengunci Kualitas dengan Cara yang Praktis

Standar desain bisa lapuk bila tidak dirawat. Pg Soft menerapkan audit berkala yang ringan: halaman dipindai untuk menemukan variasi yang tidak perlu, lalu dicatat sebagai “utang desain”. Tim juga membuat checklist sebelum rilis, seperti konsistensi ikon, ukuran tap target, dan keseragaman gaya notifikasi. Audit ini tidak menakutkan karena tujuannya bukan menyalahkan, melainkan menjaga agar sistem tetap hidup dan relevan.

Jembatan Desain–Developer: Dokumentasi yang Bisa Dipakai

Dokumentasi menjadi pengikat utama: setiap komponen memiliki contoh penggunaan, aturan do/don’t, serta potongan spesifikasi yang mudah diterjemahkan ke kode. Pg Soft menulis dokumentasi dengan bahasa yang tidak terlalu akademis agar cepat dipahami lintas peran. Di beberapa tim, token desain disinkronkan ke repositori sehingga perubahan dapat dilacak seperti perubahan kode. Cara ini membuat standar desain bukan file yang terlupakan, tetapi bagian dari alur kerja harian.

Pengujian Pengalaman: Standar yang Lulus di Dunia Nyata

Terakhir, Pg Soft menguji standar desain melalui skenario nyata: pengguna baru, pengguna lama, kondisi koneksi buruk, hingga perangkat dengan layar kecil. Mereka memperhatikan waktu yang dibutuhkan untuk menemukan tindakan utama, kesalahan yang paling sering terjadi, dan titik di mana pengguna ragu. Temuan tersebut kembali ke sistem: mungkin perlu menambah varian komponen, memperjelas hierarki, atau menyesuaikan mikrocopy. Dengan siklus ini, standar desain tidak berhenti sebagai aturan, melainkan berkembang sebagai respons terhadap perilaku pengguna.

@ Seo HENGONGHUAT